Transformasi Fungsi dan Bentuk Ndalem Pakuningratan sebagai Bagian dari Pelestarian Bangunan Tradisional Yogyakarta

by

Sidhi Pramudito1, Gerarda Orbita Ida Cahyandari2

1,2 Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Korespondensi: sidhi.pramudito@uajy.ac.id

https://doi.org/10.32315/ti.7.c114

Abstrak

Indonesia memiliki keanekaragaman budaya, salah satunya arsitektur nusantara yang diwujudkan dalam bangunan tradisional. Fungsi dan bentuk bangunan tradisional merupakan wujud fisik dari tradisi budaya setempat yang terus mengalami transformasi. Wujud transformasi yang diharapkan adalah dengan tetap mempertahankan karakter inti bangunan tradisional sehingga eksistensi bangunan tersebut tetap dapat terjaga, baik masa lalu, masa kini, maupun masa mendatang. Makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi transformasi fungsi dan bentuk pada bangunan tradisonal Yogyakarta, yaitu bangunan ndalem, dengan kasus studi Ndalem Pakuningratan. Obyek bangunan ndalem dipilih karena bangunan ndalem merupakan hunian tradisional yang mewakili startifikasi sosial tertinggi setelah Keraton, dimana saat ini bangunan tersebut telah mengalami beberapa transformasi. Penyusunan makalah ini menggunakan metode deskriptif melalui kasus studi di lapangan dengan analisa melalui cara kualitatif. Metode pengambilan data dengan observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil dari makalah ini menunjukkan transformasi fungsi yang terjadi pada Ndalem Pakuningratan adalah pada beberapa bagian, yaitu menjadi fungsi restoran dan pendidikan. Sedangkan transformasi bentuk secara keseluruhan terjadi pada bagian pelingkup bangunan. Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa bangunan Ndalem Pakuningratan mengalami transformasi dari fungsi tunggal menjadi multifungsi yang mengakibatkan terjadi transformasi bentuk pula. Upaya transformasi ini harapannya dapat menjaga eksistensi Ndalem Pakuningratan sebagai bagian dari keistimewaan Yogyakarta.

Kata-kunci : trasformasi, fungsi, bentuk, Ndalem Pakuningratan

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 7, C 114-122
Download PDF