Sistem Kepemilikan Rumah Panggung di Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan

by

Syarif Beddu1, Ananto Yudono2, Afifah Harisah3, Moh Mochsen Sir4

1 Mahasiswa Pascasarjana, Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.
2 Lab.Perencanaan dan Perancangan Kota, Departemen PWK, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.
3,4 Lab. Teori,Sejarah Arsitektur dan Lingkungan Perilaku, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.
Korespondensi: syarif.beddu@gmail.com

https://doi.org/10.32315/ti.7.f101

Abstrak

Rumah panggung (house on stilts) yang bermaterial kayu merupakan hunian ciri khas masyarakat Sulawesi Selatan. Memiliki rumah panggung menjadi kebanggaan tersendiri dan menandakan derajat nilai sosial ekonomi bagi pemiliknya. Menghuni secara berpanggung telah lama dilaksanakan mulai dari nenek moyang mereka dan sampai saat ini, rumah-rumah tersebut masih dapat dijumpai berdiri kokoh sampai ke pelosok Kabupaten Soppeng. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang  illegal logging, mengakibatkan material kayu semakin langka dipasaran. Hal ini menimbulkan permasalahan yaitu bagaimana cara memiliki rumah panggung, dengan harga kayu yang begitu mahal, dan kalau mampu memiliki bagaimana model pembayarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemu-kenali tata cara kepemilikan rumah panggung kayu di Kabupaten Soppeng, pasca undang-undang illegal logging. Penelitian ini metode kualitatif eksploratif, sifat penelitian deskriptif, yaitu menarasikan dan menjelaskan kondisi lapangan berdasarkan hasil eksplorasi; teknik sampel “probability sampling”. Hasil temuan penelitian ini adalah tata cara pemilikan rumah panggung; tanpa membeli “tunai” (cash) namun dapat “dicicil” dengan gabah setiap selesai panen.

Kata-kunci: kepemilikan rumah panggung, pembayaran, gabah

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 7, F 101-109
Download PDF