Sinema dalam Arsitektur

by

Resty Haryono Putri1, Raksa Maulana Subki2

1 Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Komputer Indonesia.
2 Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Kebangsaan.
Korespondensi: restyputri81@gmail.com, r.subki@universitaskebangsaan.ac.id

https://doi.org/10.32315/ti.7.c109

Abstrak

 Sejarah arsitektur tidak hanya terbatas pada mencatat prestasi para arsitek dan evolusi gaya bangunan dan konstruksi. ini juga merupakan sejarah representasi arsitektur dan kebangkitan di bidang seni dan budaya populer lainnya. Representasi dari niat dan ide arsitektur yang memainkan peran utama dalam membangun dialog selama proses desain sangat penting karena mempengaruhi hasil desain. Aset unik arsitektur adalah sarana yang mewadahi konsepnya juga merupakan sarana yang mengekspresikan dirinya secara visual dan sosial, yaitu bahasa yang kita gunakan untuk mendeskripsikan ide-ide kita, membentuk pikiran kita selanjutnya dan hasil akhirnya, karena secara mental dibatasi oleh batas-batas mode representasi kita. Media lain yang terlibat dengan parameter ruang (bingkai) gerakan (adegan dan peristiwa) yang serupa dan waktu (durasi, kerangka waktu) untuk ekspresi narasinya adalah bioskop. Arsitek dapat menarik kemiripan dengan proses terjemahan narasi dalam arsitektur, dapat disesuaikan dengan mengembangkan cara baru di mana arsitektur dan sinema berkolaborasi, bukan sebagai alat untuk representasi produk akhir tetapi sebagai bagian dari proses desain itu sendiri, alat untuk menerjemahkan gagasan-gagasan arsitektural.

Kata-kunci: Sinema, Arsitektur, Arsitek, Film.

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 7, C 109-113
Download PDF