Ruang Kota Yang (Tidak) Mendidik: Persepsi dan Penggunaan Koridor Rumah Toko di Medan

by

Wahyuni Zahrah1, Achmad Delianur Nasution2, Novi Rahmadhani3

1,2 Laboratorium Perkotaan dan Permukiman, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara
3 Laboratorium Perancangan Arsitektur, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara
Korespondensi: wahyuni.zahra@usu.ac.id

https://doi.org/10.32315/ti.7.d105

Abstrak

Makalah ini bermaksud untuk menguraikan bagaimana sebuah koridor kota, yang merupakan ruang terbuka publik, dipersepsikan dan digunakan oleh masyarakat.  Penelitian dilakukan di tiga koridor rumah toko di Medan, yaitu Koridor Jalan Ringroad, Koridor Jalan Kapten Muslim, dan Koridor Jalan Asia. Studi menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan berdasarkan data kualitatif dan kuantitatif. Kondisi fisik koridor direkam melalui survey visual. Data tentang aktivitas yang berlangsung di koridor diperoleh melalui pemetaan perilaku pada jam-jam puncak kegiatan. Wawancara berbasis kuesioner kepada beberapa kelompok pengguna dilakukan untuk mendapatkan data mengenai persepsi masyarakat. Studi menunjukkan bahwa masyarakat mempersepsikan ruang koridor kota sebagai milik umum yang boleh digunakan oleh masyarakat dengan syarat dan ketentuan. Kenyataan menunjukkan penggunaan koridor lebih banyak untuk kepentingan pribadi dengan dua kebutuhan utama: berdagang dan parkir kendaraan. Ketiadaan panduan rancang dan pengendalian yang memadai menghasilkan kegagalan tata ruang dalam mendidik masyarakat bagaimana seharusnya berbagi kepentingan di ruang kota.

Kata-kunci: ruang terbuka publik, koridor kota, perancangan kota, Medan, Indonesia

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 7, D 105-111
Download PDF