Prospek Land-Sharing & Model Unit Hunian pada Penataan Permukiman Kumuh menjadi Hunian Bertingkat Sewa: Studi Kasus Pemukim Ilegal di RW.12 Kel. Dago Kec. Coblong Bandung

by

Puspita Darmaningtyas*, Allis Nurdini**, Ismet Belgawan Harun**

* Mahasiswa Magister  Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan, Institut teknologi Bandung
** Staf Pengajar Magister  Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan, Institut teknologi Bandung

Abstrak

Artikel ini memaparkan penelitian dari salah satu Tesis Magister Arsitektur SAPPK-ITB bidang perumahan permukiman yang sedang berjalan. Penelitian ini merupakan penelitian mengenai land-sharing. Penelitian didasari dari fenomena MBR yang sulit mendapatkan akses terhadap lahan di perkotaan, dimana untuk bertahan hidup membangun permukiman tidak layak huni di lahan-lahan terlantar. Lokasi tumbuhnya pemukim liar seperti di lahan sepanjang sungai, kawasan TPA atau lahan kosong. Dalam program LS, penataan kembali kawasan memerlukan partisipasi dari banyak pihak seperti pemerintah dan masyarakat. Respon masyarakat menjadi fokus terhadap penataan kembali seperti pemilihan desain hunian baru yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pemukim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah Contingent Valuation Method (CVM) atau Metode Penaksiran Bergantung yang meliputi Willingness To Accept (WTA) dan Willingness To Pay (WTP) terhadap proses dan produk desain. Hasil sementara penelitian ini menunjukkan bahwa WTP dari pemukim dari 30 responden yang mau menerima penataan ada 22 responden dimana 17 responden menerima nilai pebaikan dan 5 responden tidak dapat berpartisipasi akibat tidak dapat membayar biaya perbaikan kawasan.

Kata-kunci: MBR, land-sharing,  Contingent Valuation Method

Halaman 49-52
Download PDF:
TI2012-04-p049-052 – Prospek Land-Sharing & Model Unit Hunian