Produksi Ruang Kalakeran di Permukiman Pesisir Pasca Reklamasi Pantai Manado

by

Judy O. Waani

Program Studi Aristektur, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi Manado.

Abstrak

Ruang sebagai lingkungan binaan selalu diproduksi oleh manusia. Dalam proses pembentukannya, terdapat ruang yang direncanakan dan ruang yang tidak direncanakan. Ruang yang tidak direncanakan cenderung dibentuk oleh masyarakat lokal dengan semangat lokal, memaknai ruang yang kemudian menjadi produk ruang lokal sebagai genius loci. Fokus penelitian ini pada produksi ruang masyarakat lokal. Metode penelitian ini, menggunakan paradigma dan metode Fenomenologi. Penelitian dimulai dengan grand tour kemudian dilanjutkan dengan mini tour. Sampel atau lebih tepat disebut informan diambil secara purposive.Selanjutnya data yang didapat, dianalisis dengan cara induktif. Proses analisis dimulai dari catatan lapangan, kemudian disusun dalam unit informasi dan dikategorisasikan secara bertahap dalam tema-tema dan konsep-konsep. Dialog antar konsep akan membentuk teori yang secara substantif yang berlaku lokal. Hasil penelitian ditemukan bahwa ruang kalakeranawalnya adalah salah satu ruang yang diproduksi oleh masyarakat lokal Minahasa di Permukiman Titiwungen. Ruang kalakeran terbentuk dari hasil kesepakatan masyarakat tertentu untuk digunakan bersama oleh masyarakat lokal. Kesepakatan ini menghasilkan permukiman kampung di sepanjang Pesisir Pantai Titiwungen seperti Kampung Tombariri, Kampung Kakas, Kampung Tomohon dan bahkan berkembang untuk mayarakat yang bukan berasal dari Minahasa seperti Kampung Sanger. Pasca reklamasi ruang ini berubah memunculkan bebarapa konflik ruang yang mengarah kepada kriminalisasi ruang.

Kata kunci kalakeran, permukiman, pesisir, ruang

Halaman 17-26
Download PDF:
TI2015-0-09-16-Produksi Ruang Kalakeran di Permukiman Pesisir