Persepsi Masyarakat terhadap Suasana pada Bangunan Kolonial yang Berfungsi sebagai Fasilitas Publik

by

Emmelia Tricia Herliana(1), Himasari Hanan(2)

(1) Mahasiswa Program Doktor Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), Institut Teknologi Bandung.
(2) Dosen Pembimbing pada Program Studi Doktor Arsitektur, Kelompok Keilmuan Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), Institut Teknologi Bandung.

Abstrak

Pentingnya pelestarian bangunan kolonial yang merupakan bangunan cagar budaya telah disadari sebagai bagian dari signifikansi budaya yang membentuk sejarah Bangsa Indonesia. Penggunaan kembali bangunan lama seringkali melibatkan fungsi baru yang berupa fasilitas publik yang cenderung bersifat komersial, seperti cafe, toko buku, ataupun galeri. Namun, di dalam peng-gunaannya, persepsi pengunjung seringkali diabaikan dan pengunjung diharapkan dapat menerima dan menyesuaikan diri dengan suasana yang ditampilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengunjung bangunan kolonial yang berfungsi sebagai fasilitas publik terhadap suasana yang dialami dan suasana yang diinginkan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah menyebarkan kuesioner online pada media sosial. Data teks yang didapatkan dari 62 responden dianalisis dengan menggunakan metode analisis data teks. Hasil analisis menunjukkan bahwa tiga faktor utama pembentuk persepsi terhadap suasana yang dialami dan suasana yang diinginkan ketika berada di bangunan kolonial yang berfungsi sebagai fasilitas publik adalah faktor kenyamanan psikologis, ekspresi unsur arsitektural, dan nilai sejarah.

Kata-kunci : bangunan kolonial, fasilitas publik, persepsi

Halaman D 123-028
Download PDF :
IPLBI2016-D-123-128-persepsi-masyarakat-terhadap-suasana-pada-bangunan-kolonial-yang-berfungsi-sebagai-fasilitas-publik