Penerapan Tutu Raka dalam Zonasi Ruang Tradisional Kerajaan Muna

by

La Ode Abdul Rachmad Sabdin Andisir1, Arman Faslih2

1,2 Barata, D III Teknik Arsitektur, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Halu Oleo.
Korespondensi: sabdinrachmad@gmail.com

https://doi.org/10.32315/ti.7.h079

Abstrak

Gerakan mengkontekskan pembangunan kota-kota di Indonesia mesti didahului oleh pendokumentasian kearifan lokal baik itu pada lapis etika-kognisi dan lapis estetis-material melalui riset serta terus dimasyarakatkan sehingga, masyarakat memahami esensi dari kota yang berjati diri. Penelitian ini bertujuan (1) mendokumentasikan ajaran leluhur yang wajib ditaati (Tutu Raka) sebagai pedoman hidup masyarakat Muna, (2) Mengungkap penerapan Tutu raka sebagai paradigma dalam konsep zonasi ruang tradisional Kerajaan Muna. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Muna sebagai bekas wilayah administrasi Kerajaan Muna.  Metode penelitian ini berlandaskan pada paradigma post-positivisme yakni metode etnografi pendekatan kualitatif dan aspek-aspek yang dianalisis (1) tutu raka pra islam, (2) tutu raka pasca islam, (3) penerapan tutu raka dalam zonasi ruang tradisional Kerajaan Muna. Peneitian ini menemukan dua temuan yakni (1) deskripsi tutu raka pra Islam seperti pobhini – bhiniti kuli, pomoa – moasigho, poadha – adhati, poangka – angkatau, popia – piara, dan poromu indaa saangu, pogaa indaa kololota. Deskripsi tutu raka pasca Islam seperti hansuru arata sumanomo mbadha, hansuru mbadha sumanomo liwu, hansuru liwu sumanomo sara, dan hansuru sara sumanomo agama, (2) penerapan tutu raka sebagai paradigma dalam konsep zonasi ruang tradisional Kerajaan Muna seperti ruang tradisional Kerajaan Muna dibagi menjadi empat zona (fato ghoera) dengan penamsilan Zona A Katobu seabagai dada, Zona B Lawa sebagai Hati, Zona C Kabawo sebagai hati kecil, Zona D Tongkuno sebagai hati nurani.

Kata-kunci : muna, ruang, tuturaka, tradsional

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 7, H 079-087
Download PDF