Pendekatan Bioregion, Pola Spasial dan Konservasi Mangrove dalam Pemanfaatan Ruang Pesisir Kabupaten Majene

by

Fadhil Surur1, Nurul Wahdaniyah2, Ayyul Hizbayn3

Laboratorium Keahlian Perencanaan Tata Ruang Pesisir dan Kepulauan, Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
2,3  Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Korespondensi: fadhil.surur@uin-alauddin.ac.id

https://doi.org/10.32315/ti.6.e031

Abstrak

Pesisir barat Majene di Kecamatan Pamboang memegang peran penting menjaga kestabilan ruang ekosistem darat dan laut, sentra produksi perikanan, lahan permukiman dan pengembangan hasil hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun desain kebijakan dalam mengurangi dampak kerusakan lingkungan melalui integrasi pendekatan bioregion, pola spasial dan konservasi mangrove menjadi satu dimensi yang komprehensif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Juli 2016. Jenis data terdiri dari data primer mencakup kondisi fisik wilayah pesisir, prasarana dan sarana, pola penggunaan lahan serta ekosistem pesisir dan data sekunder yaitu pola ruang RTRW, hidro-oceanografi, fasilitas serta demografi wilayah. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi lapangan, pendataan instansional dan studi literatur. Pengkajian bioregion wilayah dilakukan dengan analisis penetapan fungsi kawasan untuk menilai karakteristik bioregion lahan, sedangkan penilaian pola spasial menggunakan analisis skalogram dan analisis sarana dan prasarana wilayah sebagai pembentuk struktur wilayah. Pengembangan konservasi menggunakanan analisis kesesuaian lahan mangrove. Analisis SWOT bertujuan merangkum seluruh hasil pendekatan yang digunakan sehingga menghasilkan alternatif kebijakan yang komprehensif. Berdasarkan pendekatan bioregion menunjukkan terdapat 3 fungsi yaitu kawasan lindung, penyangga dan budidaya. Hasil kajian pola spasial dibagi menjadi 3 hierarki spasial yaitu PPL primer, sekunder dan tersier. Pada pendekatan konservasi secara kuantitatif layak dikembangkan menjadi kawasan konservasi. Strategi integrasi ketiga pendekatan diwujudkan dalam pengembangan zona kegiatan sehingga interaksi antara kawasan lindung dan budidaya dapat seimbang.

Kata-kunci : bioregion, pola spasial, konservasi

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 6, E 031-038
Download PDF