Pemecahan Masalah dan Penambahan Nilai Masyarakat pada Desain-Desain SHAU

by

Muhammad H. Al-Awliya1, Calista Pranoto2, Muh. Yusuf2, Putri P. Rumahorbo4, Agus S. Ekomadyo5

1,2,3,4 Mahasiswa Program Sarjana Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung
5 Dosen Program Sarjana Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung
Korespondensi: mhilyaha@gmail.com

https://doi.org/10.32315/ti.7.c099

Abstrak

Setiap perancang memiliki pendekatan merancang yang berbeda-beda. Pendekatan desain dan hasil berpikir yang berbeda membuat kekhasan pada setiap biro arsitektur. Suryawinata Heinzelmann Architecture and Urbanism (SHAU) merupakan biro arsitek yang mempunyai pendekatan dan cara berpikir yang khas. Tulisan ini bertujuan untuk mencari benang merah dari proses merancang SHAU dilihat dari karya-karyanya. Telaah dilakukan dengan menggunakan kerangka Cara Berpikir Desainer dari Lawson (1990), yang melihat desain sebagai sebuah proses: bagaimana proses itu bekerja, permasalahan, persoalan, dan solusi desain, serta langkah-langkah yang perancang ambil selama proses mendesain hingga mencapai hasil akhir. Dengan mengidentifikasi proses desain pada kasus proyek Microlibrary Taman Bima, Taman Film Pasopati, dan Pasar Banjarejo Fase 2, didapatkan benang merah dari cara berpikir SHAU. Rancangan SHAU mempunyai karakter konsep berpikir “tabula rasa”, yaitu membuat kebaruan dari setiap proyek, namun tetap memperhatikan konteks masyarakat. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa SHAU adalah biro arsitektur yang ingin membuat masyarakat merasa bahwa tempatnya tidak diambil, tetapi ditambahkan.

Kata-kunci: Cara Berpikir Desainer, Lawson, SHAU, masyarakat, Microlibrary Taman Bima, Pasar Banjarejo, tabula rasa, Taman Film Pasopati

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 7, C 099-103
Download PDF