Membaca Ngalalakon pada Komunitas Adat Ciptagelar sebagai Masyarakat Peladang

by

Susilo Kusdiwanggo

Kelompok Keilmuan Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur, Mahasiswa Program Doktor Arsitektur, Institut Teknologi Bandung

Abstrak

Masyarakat peladang identik sebagai masyarakat yang bermobilitas tinggi karena seringnya mereka berpindah tempat (migrasi). Dalam perspektif komunitas adat Ciptagelar sebagai masyarakat peladang, mobilitas ini disebut sebagai ngalalakon. Ngalalakon adalah ritual berkelana yang wajib dijalankan atas perintah wangsit leluhur. Prinsip ngalalakon ternyata berbeda dengan kaidah migrasi pada umumnya. Tulisan ini membaca pola ngalalakon komunitas keturunan Ciptagelar dari jejak spasial yang ditinggalkannya. Jenis metode yang digunakan dalam riset ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan lapangan-etnografik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan mendengarkan informan. Data dianalisis secara domain, taksonomis, komponensial, hingga memunculkan tema-tema. Ngalalakon merupakan salah satu tema yang muncul. Dalam ngalalakon dijumpai beberapa aspek, yaitu tahap, sifat, jenis, gerak dan unsur penanda. Dari sembilan belas ritual ngalalakon komunitas adat Ciptagelar, ternyata membentuk rangkaian tiga fase yang setiap tahapnya berbeda maksud ritualnya.

Kata-kunci: Ciptagelar, ngalalakon, masyarakat peladang

Halaman 37-42
Download PDF:
TI2013 04 p037-042 Membaca Ngalalakon pada Komunitas Adat Ciptagelar