Membaca Dualism-Antithesis dan Dualism-Harmony sebagai Dasar Memahami Konsensus Ruang Nusantara

by

Susilo Kusdiwanggo

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universtas Brawijaya.
Korespondensi: kusdiwanggo@ub.ac.id

https://doi.org/10.32315/ti.6.i093

Abstrak

Setiap budaya pada masyarakat primordial Indonesia (Nusantara) memiliki benih sifat dualisme (keserba-duaan ganda) yang berbeda-beda. Rujukan awal sifat dualisme tersebut justru banyak ditemukan melalui keberadaan mitos. Walaupun mitos bagi sebagian orang tidak masuk akal, tetapi pada kenyataannya genesis dan peradaban sering bermula dari mitologi. Sifat dualisme ini telah menjadi dasar tertua konsep ruang Nusantara. Sayangnya, sifat dualisme tersebut sering dipahami hanya melalui pemikiran dualism-antithesis. Padahal, melalui kehidupaan masyarakat budaya padi di Ciptagelar sebagai salah satu khazah budaya dan peradaban Nusantara, dualisme dapat juga dipahami melalu pemikiran dualism-harmony (sakuren). Tulisan ini bertujuan membahas dan memahami dualisme dari dua sisi antitesis dan harmoni. Hasil yang diperoleh adalah bahwa sakuren dapat didudukan sebagai tinjaun kritis terhadap cara memahami dualisme yang sudah pernah ada sebelumnya.

Kata-kunci : dualisme, dualism-antithesis, dualism-harmony, mitos, Nusantara

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 6, I 093-100
Download PDF