Makna Emik Ruang Permukiman Atas Air di Pesisir Pantai Pulau Naen

by

Judy O. Waani(1), Oktavianus H.A. Rogi(2),  Alvin J. Tinangon(3)

(1)Lab. Teori, Sejarah dan Kritik Arsitektur, Teori Arsitektur, Arsitektur dan Perilaku, Program Studi Arsitektur, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi.
(2)Lab. Perencanaan Kota, Perencanaan Kota, Kebijakan Publik, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi.
(3)Studio Perancangan, Studio Perancangan, Perancangan Arsitektur, Program Studi Arsitektur, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi.

Abstrak

Permukiman atas air adalah kawasan yang jarang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat Suku Bajo merupakan suku yang memiliki kebiasaan ini. Pulau Naen merupakan salah satu tempat yang menjadi tempat tinggal mereka selain dari masyarakat Sanger Talaud. Penelitian ini mencakup dua dari tiga desa yang ada di Pulau Naen yaitu Desa Nain atau juga disebut Nain Induk dan Desa Nain Satu. Bagaimana kemudian masyarakat memaknai ruang permukiman mereka merupakan salah satu masalah yang diangkat dalam penelitian ini. Namun demikian dalam tulisan ini, peneliti hanya akan melaporkan tema-tema yang muncul dalam penelitian ini. Paradigma penelitian, menggunakan Fenomenologi Husserl dengan metode kualitatif. Analisis data menggunakan cara induktif dan pengambilan data berdasarkan purposive sampling. Hasil penelitian ditemukan beberapa tema-tema penelitian ini yaitu 1) ruang basudara, 2) para-para rumah, 3) jual beli rumah, 4) perubahan material rumah, 5) tampa fufu, 6) parkir parao, 7) sumur Boki Tibe Tiah.

Kata-kunci : atas air, emik, permukiman, tema-tema

Halaman G 073-076
Download PDF :
IPLBI2016-G-073-076-Makna Emik Ruang Permukiman Atas Air di Pesisir Pantai Pulau Naen Revisi