Kritik Fenomena Double-Skin Facades Menggunakan Material Allumunium Composite Material (Acm) pada Bangunan di Indonesia berdasarkan Teori “The Eyes Of Skin” Juhanni Pallasma

by

Irfan Diansya

Program Studi Magister Rancang Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.

Abstrak

Double-skin facades merupakan teknik penerapan desain untuk merespon lingkungan terhadap karya arsitektur. Beberapa contoh diantaranya untuk merespon terhadap iklim, suhu udara, cahaya, dan sistem akustik pada bangunan. Semenjak teknologi material semakin maju, arsitek dihadapkan berbagai macam pilihan material untuk diterapkan pada desain yang dirancang. Kreatifitas arsitek didukung dengan kemajuan industri teknologi material, membuat desain yang di usung oleh arsitek semakin menarik dan berkarakter. Dinding menjadi media penyampaian cita rasa seni atau sense of art yang dimilki sang arsitek. Selubung bangunan yang awalnya memiliki fungsi sebagai respon bangunan terhadap lingkungan kemudian ditangan arsitek beralih menjadi media untuk berkarya seni yang fungsional (functional of art). Tren pemasangan double-skin facades banyak di emulasi oleh para arsitek yang “gagal paham” terhadap motif utama yang melatar belakangi pemasangan double-skin facades. Arsitek yang melakukan proses analisa lingkungan dan merespon lingkungan dengan cara yang baik dan benar, produk desain yang dihasilkan pasti akan baik. Hasil produk desain yang baik tersebut sering di emulasi oleh arsitek yang “gagal paham” untuk diterapkan pada produk desainnya. Sehingga double-skin facades yang awalnya fungsional menjadi hanya sekedar aksen pelengkap keindahan bangunan atau seni yang tidak berfungsi dysfunctional of art. Salah satu material selubung terluar bangunan yang banyak beredar di pasar saat ini adalah allumunium composite material atau sandwich panel. Allumunium Composite Material (ACM) merupakan material allumunium yang terdiri dari tiga lapisan. Pada permukaan terluar dan terdalam dilapisi material allumunium dan pada lapisan dalam di isi dengan material Non-Allumunium. Material non-allumunium tersebut tergantung teknologi yang diterapkan oleh industri yang membuat, ada yang menggunakan material polyethylene, material rubber (karet), mica, dan lain sebagainya. Allumunium Composite Material (ACM) saat ini sudah banyak digunakan dalam karya arsitektur di Indonesia, bahkan material ini sudah menjadi tradisi yang harus digunakan dalam karya arsitektur terutama bangunan komersial, baik itu hotel, apartemen, pusat perbelanjaan bahkan banyak juga gedung instasi pemerintahan menggunakan material ini untuk melapisi selubung terluar bangunan. Oleh sebab itu, penulis berusaha menggali motif yang mendasari pemasangan double-skin facades yang menggunakan material ACM. Apakah didasari dengan nilai fungsional atau hanya sekedar aksen pelengkap keindahan bangunan. Metode yang digunakan yaitu observasi arsip media online serta observasi langsung dilapangan. Kemudian dilakukan proses analisis visual kemudian dideskripsikan berdasarkan teori the eyes of skin (Pallasma, 1996). Artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kesadaran arsitek dengan motif yang mendasari suatu desain, sehingga arsitek bisa menyikapi dengan bijak desain tersebut.

Kata-kunci : motif, double-skin facades, selubung, material, ACM

Halaman I 055-062
Download PDF :
IPLBI2016-I-055-062-Kritik Fenomena Double-Skin Facades Menggunakan Material Allumunium Composite Material (Acm)