Koridor Ruang Kota Layak Huni: Budaya “Merampas” Ruang Publik?

by

Wahyuni Zahrah(1), Dwira Aulia(2), Beny O. Y. Marpaung(3)

(1)Lab.Perkotaan dan Permukiman, Urban Regional Planning, Kampung Kota, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.(2)Lab.Perkotaan dan Permukiman, Urban Regional Planning, Perumahan dan Permukiman, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
(3)Lab.Perkotaan dan Permukiman, Urban Design, Bidang Dampak Lingkungan Fisik Kota, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

Abstrak

Ruang kota merupakan ruang publik yang dapat diakses oleh siapa saja dan digunakan bersama. Perkembangan kota di Indonesia yang cenderung sprawl dan linier membentuk banyak sekali koridor kota, utamanya koridor dengan fungsi dominan komersial. Penelitian ini bermaksud menganalisis penggunaan ruang kota sebagai ruang publik dikaitkan dengan kebutuhan ruang kota yang layak huni. Pengumpulan data fisik, penggunaan dan aktivitas dilakukan melakukan survey lapangan dan pemetaan. Selain itu juga dilakukan wawancara dan penyebaran kuesioner untuk memperoleh data tentang ragam dan intensitas aktivitas yang berlangsung serta persepsi pengguna terhadap kondisi rang kota yang ada. Analisis dilakukan secara deskriptif eksploratif untuk menjelaskan kualitas ruang kota yang layak huni. Hasil studi menunjukkan bahwa terjadi konflik penggunaan ruang kota antara kepentingan privat dan publik. Dapat dikatakan, ruang kota layak huni untuk sebagian pengguna (dalam hal ini penjual), tapi tidak bagi konsumen. Penelitian merekomendasikan penerapan penataan bangunan dengan tetap menjaga fungsi-fungs publik.

Kata-kunci : koridor kota, layak huni, ruang publik dan privat, rumah toko

Halaman E 081-088
Download PDF :
IPLBI2016-E-081-088-Koridor Ruang Kota Layak Huni Budaya “Merampas” Ruang Publik