Konstruksi Filsafat Arsitektur Nusantara: Kasus Filsafat Pamoring Kawula Gusti pada Arsitektur Jawa

by

Johannes Adiyanto*

Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Abstrak

Perkembangan ke-ilmu-an arsitektur pada masa sekarang berkembang sangat pesat. Hal yang sering terabaikan adalah bagaimana ilmu arsitektur menyusun teorinya. Kate Nesbitt bahkan secara nyata menyatakan bahwa agenda terkini arsitektur adalah membuat teori/theorizing (Nesbitt, 1996). Niel Leach membuka wacana bahwa teori arsitektur dapat terbangun dari pendekatan filsafati (Leach, 1997); yang sebelumnya menggunakan pendekatan naturalistik (Lincoln & Guba, 1985).  Kertas kerja ini mengikuti kerja Niel Leach yang melakukan pendekatan filsafati. Tujuan kertas kerja ini menunjukkan bahwa filsafat yang hidup di masyarakat (dalam kasus masyarakat Jawa) terwujudnyata dalam bangun arsitekturalnya. Metode yang digunakan adalah metode klarifikasi Wittegenstein yang melakukan investigasi penggunaan kata baik dalam makna kata dan pengunaan sehari-hari (McGinn, 1997). Hasil penelitian didapatkan bahwa arsitektur Jawa mempunyai tingkatan dari tahap 1 dialog dualistik-kontras, tahap 2 dialog dualistik-mediatif dan tahap paling tinggi tahap monolog monistik-spiritual. Dengan hasil tersebut arsitektur Jawa tidak hanya berada terwujud dalam aspek fisikal tapi juga aspek spiritual.

Kata-kunci: filsafat arsitektur, metode investigasi Wittegenstein, filsafat Pamoring kawula Gusti, dan arsitektur Jawa

Halaman 81-84
Download PDF:
TI2012-05-p081-084 – Konstruksi Filsafat Arsitektur Nusantara