Kelayakan Shelter BRT Koridor VI Kota Semarang

by

Andi Purnomo

Lab. Perancangan Kota dan Permukiman/Teknik Arsitektur/Jurusan Teknik Sipil,Fakultas Teknik/Universitas Negeri Semarang.
Korespondensi: mas_andipoer@yahoomail.com

https://doi.org/10.32315/ti.6.b011

Abstrak

Seperti kota besar lainnya, Kota Semarang sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah juga memiliki berbagai permasalahan kota, salah satunya adalah masalah transportasi. Permasalahan transportasi muncul akibat peningkatan mobilitas masyarakat yang tidak diimbangi dengan sarana dan prasarana transportasi publik yang tersedia. Dalam rangka menciptakan sistem transportasi yang lebih baik, pemerintah Kota Semarang mengadakan bus rapid transit (BRT) Trans Semarang yang mulai beroperasi pada tahun 2010.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan halte BRT trans semarang koridor VI. Penelitian ini menggunakan teknik kritik deskriptif. Hasilnya diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang tepat dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih baik. Berdasarkan observasi yang dilakukan, mayoritas halte BRT Trans Semarang koridor VI memakai halte non permanen dan kurang layak untuk dijadikan halte/shelter BRT. Dengan demikian pemerintah diharapkan membenahi kelayakan halte BRT Trans Semarang agar rasa aman dan nyaman dapat diperoleh oleh pengguna BRT. Selain itu, pemerintah juga diharapkan untuk menjaga kualitas layanan yang diberikan. Layanan tersebut diantaranya pelayanan tiket, kondisi, kecepatan dan lama menunggu bus, serta penempatan dan kondisi halte yang baik.

Kata-kunci : Masalah Transportasi, BRT Trans Semarang, Kritik Deskriptif, Koridor VI

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 6, B 011-016
Download PDF