Kecerdasan Ruang Marjinal dan Potensi Ruang Publik

by

Ivan K. Nasution*, Mediatrich Triani**

Centre for Sustainable Asian Cities, School of Design and Environment, National University of Singapore
** Independent Researcher, Designer at CSYA Architect, Singapore

Abstrak

Sekitar 25% populasi Jakarta adalah warga kampung kota (Urban Poor Consortium), dengan tambahan 5% di bantaran sungai. Jumlah yang signifikan dan seringkali menjadi objek eksploitasi dan justifikasi perencanaan kota. Kepadatan. Sementara peranannya sebagai aktor kota dilupakan. Termarjinalkan. Menunggu tergusur Master Plan kota, yang direncanakan entah untuk siapa. Di tengah keterpinggiran, penduduk kampung melenting mencari sebuah kesetimbangan. Resiliensi. Memanfaatkan ruang yang ada untuk bertahan hidup, sebuah kecerdasan ruang marjinal. Menjadikan ruang berwajah majemuk, yang berubah setiap saat, kaya akan hubungan sosial, dialog dan negosiasi, yang mengkapitalisasi setiap jengkal ruang tersisa,yang sarat akan ambisi dan motif.Semuanya terkait dan tertumpuk, menjadi modal sosial sebagai solusi keterbatasan ruang. Dengan mengamati Bukit Duri dan Kampung Pulo, yang mewakili dua tipologi dan morfologi permukiman padat penduduk di Jakarta,untuk menggali bibit-bibit potensi spasial dan sosial.Mungkin kita akan menemukan kembali alasan kita untuk berkumpuluntuk mendefinisikan kembali makna sebuah ruang publik yang kian menumpul.

Kata-kunci: kampung kota, kecerdasan ruang marjinal, modal sosial, resiliensi, ruang publik

Halaman 21-24
Download PDF:
TI2012-02-p021-024 – Kecerdasan Ruang Marjinal dan Potensi Ruang Publik