Kebutuhan ‘Area Transisi’ bagi Pejalan Kakidi Kawasan Pusat Kota Bandung

by

Witanti N. Utami

Program Studi Magister Rancang Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK),ITB.

Abstrak

Kebiasaan berjalan kaki di lingkungan perkotaan dapat menjadi kesenangan tersendiri bagi pejalan kaki, tentunya apabila didukung oleh fasilitas-fasilitas pejalan kaki. Jarak mempengaruhi kelelahan dalam berjalan kaki. Saat lelah, dibutuhkan ‘area transisi’ yang merupakan area peralihan dalam walkable area, yang dapat digunakan sebagai tempat beristirahat (berhenti sejenak) dari rasa lelah. Artikel ini berusaha memahami kriteria ataupun konsep perancangan yang tepat untuk dijadikan area ‘transisi’ bagi pejalan kaki. Untuk itu dilakukan penelitian yang bersifat eksploratif, yang dilaksanakan dengan pengumpulan data survey online dan analisis data teks. Dari hasil analisis, dapat diketahui bahwa kebutuhan pejalan kaki terhadap area transisi dipengaruhi oleh faktor jarak, semakin jauh jarak yang ditempuh oleh pejalan kaki, maka tuntutan kebutuhan area transisinya semakin tinggi, hal tersebut dilihat dari kategori kata kunci yang dihasilkan dimana pada jarak lebih dari 400 m, kriteria perancangan ruang, karakter ruang, lokasi, serta kebutuhan mendasar menjadi kebutuhan yang penting bagi pejalan kaki.

Kata-kunci: area transisi, berjalan kaki,fasilitas, pejalan kaki, perancangan

Halaman A 013-018
Download PDF:
TI2015-A-013-018-Kebutuhan ‘Area Transisi’ Bagi Pejalan Kaki di Kawasan Pusat Kota Bandung