Kebijakan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya sebagai Identitas Kota Makassar

by

Satriani(1), Muh Alief Rusli Putra(1), Nurwahidah(1), Fadhil Surur(2)

(1) Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
(2) Laboratorium Keahlian Perencanaan Tata Ruang Pesisir dan Kepulauan, Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakul-tas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Abstrak

Kota Makassar menyimpan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai wisata sejarah. Perkembangan perkotaan yang berdampak pada kebutuhan ruang terus mengekspansi dan merubah pola spasial kota. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi kebera-daan bangunan bersejarah sebagai identitas Kota Makassar di masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik cagar budaya dengan menggunakan metode skoring dan pende-katan spasial, menentukan hirarki kawasan cagar budaya dengan menggunakan penentuan kelas interval dan menetukan arahan penanganan cagar budaya menggunakan metode deksriptif kualitatif. Hasil analisis diperoleh bangunan yang memiliki nilai ideal yakni Gedung MULO, Fort Rotterdam, Museum Kota Makassar, Gereja Katolik Katedral dan Gereja Protestan Immanuel. Kawasan prioritas penanganan diarahkan pada kawasan pecinan dengan unit bangunan cagar budaya berupa Klenteng Xiang Ma, Klenteng Ma Tjo Poh dan Gedung Kesenian yang memiliki keaslian bangunan fisik dan arsitektur khas sebagai pembentuk citra kawasan. Arahan pelestarian terdiri atas rekontruksi pada bangunan golongan C dan konservasi pada golongan A, B dan C. Hasil penelitian diharapkan mem-berikan alternatif kebijakan kepada pihak pemerintah dalam upaya pelestarian cagar budaya sebagai modal awal dalam pengembangan wisata sejarah di Kota Makassar.

Kata-kunci : cagar budaya, pelestarian, wisata

Halaman C 021-028
Download PDF :
IPLBI2016-C-021-028-Kebijakan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya sbg Identitas Kota Makassar