Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Beberapa Tambak Di Sekitar Kawasan Industri Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe Keong Bakau (Telescopium Telescopium) Sebagai Bioindikator

by

Riri Ezraneti1, Muliani2, Munawar Khalil3

Toksikologi Perairan, Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh.
Budidaya Perairan, Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh.
Biologi Akuatik, Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh.
Korespondensi: ririezraneti@unimal.ac.id

https://doi.org/10.32315/ti.6.a047

Abstrak

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kadar Timbal (Pb) dalam Keong Bakau pada beberapa tambak di sekitar kawasan industri kab. Aceh utara dan Kota Lhokseumawe. Penelitian dilakukan di 3 stasiun yaitu stasiun I di desa Bangka Jaya Kab. Aceh Utara, stasiun 2 di Daerah Rancung Batuphat Kota Lhokseumawe dan stasiun 3 di Loskala Kota Lhokseumawe. Sampel keong bakau (Telescopium telescopium) diambil di luar tambak 10 ekor dan di dalam tambak 10 ekor per stasiun. Parameter yang diukur adalah konsentrasi logam berat Timbal (Pb) dalam keong bakau dengan AAS dan Parameter kualitas air. Data hasil pengukuran kadar logam berat yang terdapat pada keong bakau akan dibandingkan dengan Peraturan BPOM  RI No HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009 dan SNI 7387 Tahun 2009. Sedangkan hasil pengukuran kualitas air akan dianalisis dengan membandingkan data tersebut dengan PP RI No. 82 Tahun 2001 dan MENKLH No.51 Tahun 2004 serta ditampilkan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Timbal (Pb) pada keong bakau di ke tiga stasiun bervariasi dan nilai tertinggi yang telah melebihi batas aman terdapat di stasiun 2 yaitu daerah Rancung Batuphat Kota Lhokseumawe dengan kadar dalam tambak rata-rata 6,277 mg/kg dan luar tambak rata-rata 7,052 mg/kg. Daerah tambak di sekitar kawasan industri Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe sudah tercemar logam Timbal (Pb).

Kata-kunci : Telescopium telescopium, Timbal, Kawasan Industri

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 6, A 047-052
Download PDF