Identifikasi Faktor Kebutuhan ‘Area Transisi’ : Persepsi Pejalan Kaki terhadap Jarak Berjalan Kaki di Kawasan Pusat Kota Bandung

by

Witanti Nur Utami(1), Hanson E.Kusuma(2)

(1)Prodi Studi Magister Rancang Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.
(2)Kelompok Keilmuan Perancangan Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.
Abstrak

Berjalan kaki di perkotaan dapat dilakukan dengan jarak dekat (100-200 m), jarak sedang (200-400 m), dan jarak jauh (>400 m), jarak tersebut dipertimbangkan berdasarkan kemampuan fisik sese-orang dalam menempuh perjalanan dan kebutuhan lain terkait fasilitas pendukung pejalan kaki. Jarak yang dilalui mempengaruhi kelelahan seseorang dalam berjalan kaki, saat lelah, ‘area transisi’ dapat dipertimbangkan sebagai area yang dapat digunakan untuk beristirahat sementara sekaligus berhenti sejenak dari rasa lelah. Artikel ini berusaha memahami persepsi para pejalan kaki terkait perbedaan kebutuhan area transisi berdasarkan jarak berjalan kaki. Untuk itu, dilakukan penelitian bersifat eksplanatori yang dilaksanakan dengan cara survei online, analisis faktor, dan analisis anova. Dari hasil analisis diketahui bahwa terdapat enam faktor yang mempengaruhi penentuan kebutuhan area transisi yaitu kenyamanan fisik, ruang publik, unsur lanskap, kualitas visual, fasilitas pendukung, dan kuliner. Namun hanya tiga faktor yang memiliki pengaruh yang paling signifikan terahadap jarak berjalan kaki yaitu ruang publik, kualitas visual, dan fasilitas pendukung.

Kata-kunci : area transisi, berjalan kaki, jarak, pejalan kaki

Halaman E 037-044
Download PDF :
IPLBI2016-E-037-044-Identifikasi Faktor Kebutuhan ‘Area Transisi’