Gilir-Balik dalam Sistem Tatanan Simpukng sebagai Upaya Menjaga Keselarasan Alam pada Masyarakat Dayak

by

Abraham Mohammad Ridjal

Laboratorium Arsitektur Nusantara, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya.
Korespondensi: amridjal@gmail.com

https://doi.org/10.32315/ti.6.g043

Abstrak

Arsitektur Nusantara memiliki wujud dan konsep yang sangat beragam, mulai dari yang sederhana sampai yang sangat kompleks. Salah satu yang mendasari perwujudan Arsitektur Nusantara adalah konsepsi ruang. Beragam kelompok masyarakat memiliki ragam konsep ruang yang berbeda-beda, tetapi dengan satu tujuan, yaitu menciptakan alam dan masyarakat Nusantara menjadi lebih baik. Salah satunya adalah ‘simpukng’, konsepsi ruang dari masyarakat Dayak Benuaq sebagai representasi masyarakat perambah hutan dalam mengatur hubungan antara masyarakat dan lingkungan binaannya agar bisa tetap terjaga dan tertata dengan baik. Konsep simpukng memang tidak hanya diterapkan dalam keilmuan arsitektur masyarakat Dayak Benuaq, akan tetapi konsep ruang ini dipakai di hampir seluruh aktivitas masyarakat lokal disana. Oleh karena itu, perlu ditelusuri bagaimana proses terbentuknya konsep ruang ini dalam memahami penerapan ruang hunian agar tercipta keselarasan antara alam dan manusia. Salah satu yang dapat dipelajari dari simpukng dalam arsitektur kini adalah bagaimana merumuskan ruang, baik secara mikro maupun makro dalam merumuskan konsep sustainable secara menyeluruh, bukan parsial. Selain itu, diterapkannya system gilir-balik sebagai bentuk pemahaman masyarakat Dayak Benuaq terhadap ruang hunniannya dalam mempertahankan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan manusia.

Kata-kunci : Simpukng, Dayak Benuaq, ruang, gilir-balik, sustainable

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 6, G 043-050
Download PDF