Eksplorasi Signifikansi Budaya Bermukim Masyarakat Riparian Sungai Musi Palembang

by

Bambang Wicaksono(1), Susilo Kusdiwanggo(2)

(1)Mahasiswa Program Studi S3 (Doktor), Ilmu Teknik BKU Arsitektur, Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya.
(2)Co promotor, Staf Pengajar, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya.

Abstrak

Sungai Musi sudah ada jauh sebelum keberadaan manusia. Manusia hadir mendekatkan dirinya untuk hidup dan berkehidupan. Manusia mulai membentuk kelompok, membangun permukiman, mengembangkan kebudayaan dan peradabannya. Keberadaan sungai memberi pengaruh terhadap proses tersebut hingga akhirnya mengaglomerasi menjadi budaya bermukim. Terdapat tiga modus permukiman yang telah berabad-abad dijalani masyarakat Palembang dalam menyikapi Sungai Musi. Pertama rumah rakit di Sungai Musi, kedua permukiman pasang surut dengan rumah panggungnya, dan ketiga permukiman daratan. Perkembangan Kota Palembang sejak masa kolonial Belanda hingga sekarang berdampak pada budaya bermukim masyarakat, rumah rakit semakin sedikit, rumah panggung berubah menjadi rumah bertingkat, dan rumah darat menjadi dominan dalam budaya bermukim di Palembang. Sebelum hilang, perlu ada usaha eksplorasi mengungkap signifikansi makna budaya bermukim masyarakat riparian tepi sungai yang masih asli. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam, studi literatur, dan pengamatan lapangan. Hasil penelitian menyimpulkan signifikansi budaya bermukim riparian di antara dominasi orientasi budaya bermukim darat.

Kata-kunci : budaya, bermukim, masyarakat, riparian, sungai

Halaman G 021-028
Download PDF :
IPLBI2016-G-021-028-eksplorasi-signifikansi-budaya-bermukim-masyarakat-riparian-sungai-musi-palembang