Dampak Perubahan Arah Orientasi terhadap Tata Ruang Desa Tradisional di Bali Studi Kasus Desa Pupuan

by

Made Prarabda Karma1, I Nyoman Widya Paramadhyaksa2

1 Perencanaan Manajemen Pembangunan Desa/Kota, Magister Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana.
2 Arsitektur dan Budaya, Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana.
Korespondensi: prarabdakarma@gmail.com

https://doi.org/10.32315/ti.7.f057

Abstrak

Sejak zaman megalitik gunung dipercaya sebagai tempat bersemayam para Dewa dan menjadi arah orientasi utama pada sebuah permukiman tradisional. Dalam arsitektur tradisional Bali, letak gunung disebut dengan arah kaja, sedangkan arah yang berlawanan disebut dengan arah kelod (laut). Saat ini, beberapa permukiman di wilayah pegunungan Bali mengalami perubahan arah orientasi kaja-kelod. Dampak yang ditimbulkan yakni adanya perubahan pada elemen-elemen tata ruang perumahan, seperti tata zonasi, tempat suci dan sebagainya. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam penelitian ini akan mengkaji dampak dari perubahan arah orientasi yang bertujuan untuk (1) memahami arah orientasi kaja-kelod terhadap arah sumbu bumi sebelum mengalami perubahan; dan (2) mengkaji dampak perubahan arah orientasi terhadap tata ruang permukiman tradisional di Desa Pupuan kini. Penelitian ini tergolong dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan rasionalisme yang dianalisis secara deduktif. Temuan yang diperoleh yaitu perubahan arah orientasi tersebut menyebabkan hilangnya makna yang terkandung dalam filosofi tata ruang permukiman tradisional.

Kata-kunci: perubahan, orientasi, tata ruang, Desa Pupuan

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 7, F 057-064
Download PDF