Butulan sebagai Ruang Harmoni dan Keselarasan pada Arsitektur di Laweyan Surakarta

by

Rinaldi Mirsyad1, Sugiono Soetomo2, Mussadun3, Asnawi Manaf4

Mahasiswa Program Doktor Arsitektur dan Perkotaan/Arsitektur dan Perkotaan/Program Pascasarjana, Arsitektur dan Perkotaan/Universitas Diponegoro.
Promotor Program Doktor Arsitektur dan Perkotaan/Arsitektur dan Perkotaan/Program Pascasarjana, Arsitektur dan Perkotaan/Universitas Diponegoro.
3,4 Co-Promotor Program Doktor Arsitektur dan Perkotaan/Arsitektur dan Perkotaan/Program Pascasarjana, Arsitektur dan Perkotaan/Universitas Diponegoro.
Korespondensi: rinaldi mirsyad_husain@yahoo.com

https://doi.org/10.32315/ti.6.i087

Abstrak

Keunikan Kampung Laweyan dari segi fisik dan fungsi arsitektur bangunan merupakan peninggalan masa lalu, yang dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi penggunanya. Nama Laweyan yang berdiri sebelum tahun 1500 M terdapat beberapa versi dari berbagai sumber yang menyebutkan asal-muasal Kampung Laweyan salah satunya adalah dari hasil lawe yang diproduksi selanjutnya di jual ke pasar khusus pada saat itu yang akhirnya pasar tersebut dikenal dengan nama Pasar Laweyan. Butulan merupakan pintu-pintu tembus yang menghubungkan antara satu rumah dengan rumah lainnya yang di lingkupi oleh beteng-beteng tinggi. Butulan adalah elemen paling penting sebagai sarana yang dapat membangun komunikasi antara satu rumah dengan rumah lainnya melaui gang-gang sempit tanpa harus melalui pintu gerbang utama/depan (regol). Penelitian ini bertujuan untuk melihat fungsi pintu bulan di Laweyan sebagai kekayaan lokal di kampung Laweyan. Penelitian ini menggunakan Pendekatan Diskriptif Kualitatif dengan mengambil 4 (empat) sampel secara purposif. Dalam penelitian ini ditemukan beberap fungsi butulan selain sebagai penghubung. Tampak luar pintu butulan terlihat seperti pintu rumah biasa saja dengan ukuran yang tidak terlalu besar, namun posisi pintu butulan ini tidak memiliki posisi dan orientasi yang tetap seperti arah hadap/orientasi bangunan secar umum di Laweyan. Nilai kelokalan dari butulan yang ternyata tidak hanya berfungsi sebagai penghubung, akan tetapi memiliki nilai lebih yang terungkap dalam penelitian ini sebagai identitas Laweyan.

Kata-kunci : Butulan, harmonisasi & Keselarasan, Laweyan

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 6, I 087-092
Download PDF