Analisis Pencahayaan pada Material Lokal Gaba-gaba

by

Sherly Asriany1, Adnan Sofyan2, Ridwan3

1 Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik, Univ.Khairun
2 Prodi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Univ.Khairun
3 Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, Univ. Khairun.
Korespondensi: Sherly.73@gmail.com

https://doi.org/10.32315/ti.7.g048

Abstrak

Pelepah sagu atau gaba-gaba (bahasa lokal di Maluku), pada umumnya sudah diketahui oleh masyarakat lokal kalau dapat dimanfaatkan untuk bahan dinding Sabua (rumah tradisional), namun tidak pernah diketahui kualitasnya secara “terukur” dari sisi arsitektural. Pada tanaman sagu, yang dimanfaatkan atau dikonsumsi adalah isi bagian batangnya, sedangkan pelepahnya menjadi limbah. Oleh karena itu, berbagai upaya pemanfaatan pelepah sagu ini  dilakukan, salah satunya dengan membuatnya menjadi sebuah papan komposit. Selanjutnya papan komposit dari material gaba-gaba ini diuji tingkat penyerapannya terhadap cahaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat intensitas cahaya melalui pengembangan material lokal gaba-gaba sebagai dinding partisi. Dalam lingkup bangunan hunian, kajian yang dihasilkan diarahkan untuk pengembangan material/konstruksi komponen bangunan dan komponen ruang di bangunan. Penelitian ini berada dalam paradigma pengukuran/pengujian. Melalui pengukuran didapatkan tingkat pencahayaan (translucent). Setelah  diketahui  angka tersebut, maka dapat dilakukan uji simulasi pada suatu kasus konsep rancangan bangunan dengan menggunakan beberapa software. Melalui teknik analisis data yaitu uji simulasi maka dapat diketahui, seberapa efektif bahan dinding gaba-gaba ini dapat menembuskan cahaya. Temuan dari penelitian ini adalah bahwa material gaba-gaba yang berasal dari pelepah sagu mempunyai nilai tingkat pencahayaan rata-rata 0,2225 lux. Makin tipis ketebalan material maka makin tinggi tingkat pencahayaan (translucent) dan makin besar pula penembusan cahaya.

Kata-kunci: Analisis Pencahayaan, Gaba-gaba, Penembusan Cahaya dan Tingkat Pencahayaan

Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 7, G 048-053
Download PDF