Alternatif Kubah sebagai Simbol Mesjid dan Pengaruhnya pada Desain Mesjid-Mesjid di Indonesia

by

Cut Azmah Fithri, Atthaillah, Bambang Karsono

Sejarah Arsitektur, Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh.

Abstrak

Kemunculan kubah mungkin berawal dari daerah Mesopotamia kering, dimana keberadaan kayu sangat langka namun batu bata yang terbuat dari lumpur yang dibakar dengan sinar matahari sangat banyak dan menjadi konstruksi yang lazim didaerah tersebut. Teknik konstruksi kubah dikembangkan dari bentuk lengkung double curve yang dapat membentang dengan aman. Hal ini merupakan teknik konstruksi yang lazim pada era Islam awal. Sementara di lain sisi, mesjid di Indonesia sejak 1400-an mengambil bentukan geometri dari zaman sebelum Islam dan bangunan-bangunan suci di nusantara seperti pura, keratin dan rumah-rumah tradisional. Kayu sebagai material dasar untuk konstruksi di nusantara sangat lazim digunakan. Pada tahun 1881, setelah perang yang memilukan melawan rakyat Aceh, pihak Belanda memperkenalkan bentukan yang tidak lazim untuk mesjid di Indonesia. Struktur kubah dibawa oleh Belanda dari India untuk konstruksi Mesjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh yang pada awalnya dianggap tidak layak digunakan untuk tempat beribadah. Ironisnya, walaupun bentuk yang tidak lazim namun bentuk kubah ini terus berkembang keberbagai kota-kota dan desa-desa. Lebih jauh lagi pemahaman bangunan mesjid dianggap belum sempurna tanpa kehadiran kubah. Tulisan ini bermaksud untuk mengulas aplikasi kubah sebagai atap dan pengaruhnya pada desain mesjid-mesjid di Indonesia. Studi ini juga bertujuan untuk menggali tingkat pentingnya elemen kubah ini dalam hubungannya dengan era modern dan kajian-kajian desain yang tidak terbatas.

Kata-kunci : masjid, atap kubah dan simbol

Halaman I 163-168
Download PDF :
IPLBI2016-I-163-168-Alternatif Kubah sebagai Simbol Mesjid dan Pengaruhnya pada Desain Mesjid-Mesjid di Indonesia